Home > Riset > Penggunaan SMS pada suami istri pasangan muda [1]

Penggunaan SMS pada suami istri pasangan muda [1]

by: harja saputra (2007)

A. Latar Belakang Penelitian

Komunikasi merupakan bagian inti dari kehidupan manusia. Melalui proses komunikasi, seseorang berusaha untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya kepada orang lain. Dari proses komunikasi tersebut tercipta upaya dalam mempengaruhi orang lain untuk ikut merasakan atau lebih jauh melakukan apa yang dikehendaki oleh si pembicara (komunikator).

Salah satu unsur penting dari komunikasi adalah pesan. Sebagaimana diungkapkan dalam teori komunikasi Harold Lasswell, bahwa komunikasi yang lengkap dan sempurna harus memenuhi enam unsur, yaitu komunikator, pesan, media, komunikan, media dan akibat (“Who says, What, in Which Channel, to Whom, with What, Effect”.[1] Dalam komunikasi ada istilah “pesan linguistik” dan “pesan ekstra linguistik”. Pesan linguistik atau “pesan bahasa” adalah pesan dalam bentuk kata-kata dan kalimat. Setiap cara penyampaian (berkata) memberikan maksud tersendiri. Cara-cara seperti ini disebut “pesan linguistik”. Selain itu juga manusia menyampaikan pesan dengan cara lain, misalnya dengan isyarat, ini disebut “pesan ekstra linguistik”.[2]

Teknik berkomunikasi adalah cara atau seni penyampaian suatu pesan yang dilakukan seorang komunikator sedemikian rupa, sehingga menimbulkan dampak tertentu pada komunikan. Pesan yang disampaikan komunikator adalah pernyataan sebagai paduan pikiran dan perasaan, dapat berupa ide, informasi, keluhan, keyakinan, imbauan, anjuran dan sebagainya. Pernyataan tersebut dibawakan oleh lambang, umumnya bahasa maupun melalui media lain yang berbentuk visual melalui gambar maupun simbol.

Jika dilihat dari teori komunikasi di atas, penggunaan Short Message Service (SMS) melalui media telepon seluler (ponsel/handphone) sebetulnya merupakan proses komunikasi juga. Handphone sebagai medianya dan SMS sebagai pesannya, yang dapat berupa ide, informasi, keluhan, anjuran dan sebagainya. Ia berfungsi sebagai perantara yang menjembatani proses komunikasi antara komunikator (yaitu pengirim SMS) dan komunikan (yang dikirim SMS).

Penggunaan telepon seluler pada era sekarang merupakan alat komunikasi yang sudah secara umum merata, digunakan oleh banyak orang. Bahkan tidak mengenal status sosial. Penggunaan telepon seluler yang demikian merata tersebut umumnya disebabkan oleh mobilitas yang tinggi dari manusia modern, sementara kebutuhan untuk berkomunikasi merupakan kebutuhan primer, baik untuk berkomunikasi dalam masalah personal maupun masalah bisnis dan sebagainya.

Bagi para pasangan muda khususnya, penggunaan telepon seluler merupakan solusi untuk menjaga komunikasi interpersonal di antara mobilitas yang tinggi, apalagi jika kedua pasangan itu bekerja di tempat yang berjauhan. Bahkan untuk menyelesaikan perselisihan ataupun membahas konflik penggunaan teknologi seluler pun sering digunakan.

Konflik yang berupa pertengkaran di antara pasangan yang telah menikah, apalagi pada pasangan muda, merupakan hal yang wajar. Karena pertengkaran dapat terjadi karena adanya kemauan untuk menyelesaikan suatu konflik yang sedang terjadi. Pertemuan fisik yang diharapkan dapat meningkatkan intensitas komunikasi untuk mengenal dan mengetahui lebih jauh keunikan masing-masing pasangannya, ternyata sering terabaikan karena adanya faktor perbedaan tempat bekerja dan jarak dari rumah menuju tempat bekerja yang tidak memungkinkan hal itu terjadi. Padahal dalam komunikasi yang terjadi pada pertemuan fisik, faktor-faktor non verbal sangat menentukan makna dalam Komunikasi Interpersonal. Dengan adanya ekspresi muka, gerakan tubuh, penampilan badan, nada suara, desah, jeritan, dan kualitas suara yang termasuk dalam komunikai non verbal, menurut Dale G. Leathers, sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal.[3]

Pada pasangan keluarga muda hal di atas bukan merupakan hambatan yang benar-benar tidak dapat dicari solusinya. Di era teknologi komunikasi sekarang, banyak pasangan muda melakukan komunikasi dengan pasangannya melalui SMS, telepon ataupun e-mail. Komunikasi singkat hingga pemecahan konflik yang dihadapi dapat dilakukan dengan menggunakan alat-alat komunikasi ini.

Berdasarkan latar belakang permasalahan inilah, yaitu latar belakang maraknya penggunaan telepon seluler dan khususnya penggunaan SMS, serta dikaitkan dengan fenomena kehidupan para pasangan muda dalam menyelesaikan konfliknya, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai permasalahan tersebut, dengan mengambil tema penelitian: “PENGGUNAAN SMS SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI INTERPERSONAL (STUDI KASUS KOMUNIKASI PADA SUAMI ISTRI PASANGAN MUDA)”

B. Perumusan Masalah

Penulis dapat merumuskan masalah pokok yang akan menjadi bahasan utama dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana jenis komunikasi interpersonal yang dilakukan suami istri pasangan muda dengan menggunakan SMS?

2. Bagaimana hubungan antara SMS dan konflik yang terjadi dalam suatu rumah tangga, khususnya pada suami istri pasangan muda?

3. Apakah penggunaan SMS dapat meningkatkan keterbukaan komunikasi wanita sebagai istri dalam komunikasi dengan pria sebagai suaminya?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini memiliki tujuan untuk mengetahui penggunaan SMS dalam mengatasi keterbatasan pertemuan fisik yang terjadi karena adanya faktor kesibukan dan mobilitas tinggi dalam mengejar karir dan faktor-faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan penggunaan SMS dalam berkomunikasi dengan pasangannya.

Peneliti berasumsi, wanita sebagai seorang istri mempunyai keterbatasan dalam penyampaian segala isi hati baik itu berupa perasaan atau keinginan, bila langsung berhadapan dengan pria sebagai suaminya. Sedangkan keterbatasan komunikasi tersebut dapat menghambat keterbukaan komunikasi yang seharusnya terjadi pada pasangan suami istri agar tidak terjadi perselisihan karena kesalahpahaman. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini peneliti juga ingin berusaha untuk mencari hubungan antara penggunaan SMS dengan konflik yang terjadi.

Dengan demikian, sesuai dengan rumuan masalah di atas, secara ringkas tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui jenis komunikasi interpersonal yang dilakukan suami istri pasangan muda dengan menggunakan SMS.

2. Untuk mengetahui hubungan antara SMS dan konflik yang terjadi dalam suatu rumah tangga, khususnya pada suami istri pasangan muda.

3. Untuk mengetahui penggunaan SMS dapat meningkatkan keterbukaan komunikasi wanita sebagai istri dalam komunikasi dengan pria sebagai suaminya.

D.

E. Metodologi Penelitian

1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian akan dilakukan di Solo selama 2 bulan, terhitung dari bulan Januari sampai dengan Februari 2007.

2. Metode Penelitian

Metode penelitian menurut tingkat eksplanasi (penjelasannya) dibagi menjadi tiga jenis: (1) metode penelitian deskriptif, yaitu metode penelitian yang bersifat untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain; (2) metode penelitian komparatif, adalah suatu metode yang bersifat membandingkan dari suatu variabel untuk sampel yang lebih dari satu atau dalam waktu yang berbeda; dan (3) metode penelitian asosiatif/hubungan, yaitu metode penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Metode ini berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala/peristiwa.[4]

Dikarenakan penelitian ini berusaha untuk mendeskripsikan penggunaan SMS sebagai media komunikasi interpersonal dan tidak mencari korelasinya dengan variabel lain, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengacu pada metode penelitian deskriptif, sebagaimana telah dikemukakan pengertiannya di atas.

Jalaluddin Rakhmat mengartikan penelitian deskriptif sebagai sebuah penelitian yang akan mengungkapkan fenomena yang terjadi dari obyek penelitian secara apa adanya, di mana terlebih dahulu ditentukan parameter dan variabel yang akan diteliti.[5]

3. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian yang berusaha untuk menyelidiki, memahami dan kemudian menjelaskan atau menganalisa sesuatu gejala yang diteliti dalam lingkungan masyarakat, termasuk proses-proses sosial dan pola-pola perilaku.

Menurut Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln, jenis penelitian yang dimaksud ini disebut penelitian kualitatif. Selengkapnya Denzin dan Lincoln menyebutkan bahwa …qualitative research is analysis and understanding of the patterned conduct and social process of society…[6]

Penjelasan atas gejala yang diteliti tersebut tentulah dilakukan lewat penyusunan hasil penelitian secara sistematik. Penelitian ini mempergunakan data yang dinyatakan secara verbal dan kualifikasinya bersifat teoritis. Data sebagai bukti diolah melalui pendekatan-pendekatan rasional dengan mempergunakan pola berpikir tertentu menurut hukum logika.

4. Sumber Data

Data dalam penelitian ini dapat dibagi ke dalam jenis data primer, yaitu data yang diambil langsung di lapangan melalui wawancara terhadap responden penelitian. Data primer berbeda dengan dengan data sekunder. Data sekunder, yaitu data yang diambil dari data yang telah tersedia.

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik dan alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

a. Penelitian kepustakaan, yaitu kegiatan mempelajari dan mengumpulkan data tertulis untuk menunjang penelitian. Data yang dikumpulkan berupa literatur yang berhubungan dengan topik permasalahan penelitian, baik dalam bentuk buku, artikel majalah, ensiklopedia, kamus, dan sebagainya.

c. Penelitian lapangan, yaitu dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara. Wawancara dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu: wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan bentuk wawancara terstruktur karena wawancara ini dimaksudkan untuk menemukan atau mengukur sesuatu, sehingga diperlukan pedoman wawancara yang telah disusun sebelumnya.

6. Teknik Pengambilan Sampel

Dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik penarikan sampel Bola Salju atau Snowball. Menurut Neuman, teknik Snowball juga disebut teknik jaringan atau reputasi, adalah salah satu teknik pengambilan sampel yang memanfaatkan informasi responden yang sebelumnya telah peneliti temui.[7] Pada teknik ini, peneliti memanfaatkan jaringan pertemanan atau relasi yang dimiliki oleh responden sebelumnya.

Pada penelitian ini, peneliti menetapkan 10 (sepuluh) responden sebagai sampel penelitian, yang peneliti telah benar-benar tahu karakteristik dari responden tersebut. Hubungan yang ada antara peneliti dan responden sehingga peneliti merasa bahwa mereka dapat dijadikan sebagai responden, adalah hubungan pertemenan lebih dari jangka waktu 5 (lima) tahun dari lingkungan yang berbeda. Sepuluh responden tersebut adalah: 4 orang responden hasil pertemanan di lingkungan rumah, 3 responden hasil pertemanan di lingkungan pendidikan, dan 3 responden hasil pertemanan di lingkungan aktivis LSM. Dipilihnya 10 responden dari lingkungan yang berbeda diharapkan dapat memiliki lebih banyak informasi sehingga dari responden yang beragam tersebut dapat mewakili konsep keterwakilan.

Responden yang dipilih berdasarkan karakteristik sebagai berikut:

1. Responden wanita. Responden dibatasi pada wanita karena berdasarkan asumsi yang telah dikemukakan pada tujuan penelitian di atas, bahwa seorang istri diasumsikan mempunyai keterbatasan dalam pengungkapan perasaannya secara langsung jika berhadapan dengan suaminya. Penggunaan SMS merupakan media lain dalam pengungkapan perasaan itu.

2. Responden berusia 25-35 tahun.

3. Mempunyai usia pernikahan 1-3 tahun (pasangan muda)

4. Responden memiliki jenjang pendidikan minimal Strata Satu (S-1).

5. Responden memiliki telepon seluler dan pernah menggunakan fitur SMS.

7. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara yang akan diajukan kepada responden. Pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan identitas responen, pengalaman dan perilaku, pertanyaan yang berkaitan dengan perasaan, dan pertanyaan yang berkaitan dengan penggunaan SMS dan penyelesaian konflik.

Pertanyaan yang diajukan yang terdapat dalam Pedoman Umum Wawancara adalah sebagai berikut:

Tabel 1

Pedoman Umum Wawancara

Pertanyaan

Catatan untuk Interview

Tentang Responden

1. Identitas Responden

2. Usia Pernikahan:

3. Kegiatan Sehari-hari

4. Alat komunikasi yang digunakan

5. Komunikasi dengan Pasangan

– Nama

– Alamat

– Tempat Tinggal

– Usia

– Ibu RT atau istri bekerja di tempat yang berlainan dengan suami

– HP Peribadi dan menggunakan SMS

– Frekuensi komunikasi

– Topik yang dibicarakan

– Topik yang tabu dibicarakan

– Waktu khusus untuk komunikasi

– Keterbukaan dalam komunikasi

Tentang Pasangan Responden

1. Identitas Pasangan Responden

2. Lingkungan pekerjaan

3. Kegiatan yang tidak melibatkan istri

– Nama

– Usia

– Jenis pekerjaan

– Tempat bekerja

– Lingkungan bekerja (prosentase jumah pria dan wanita)

– Jumlah jam kerja per minggu

– Jenis, frekuensi kegiatan, lingkungan.

– Alasan tidak melibatkan istri

Penerimaan SMS

1. Pengecekan SMS pada HP Pasangan

2. SMS tidak dikenal

– Frekuensi

– Alasan dilakukan

– Tanggapan

– Pencetus konflik atau tidak

– Kejadian khusus (pernah atau tidak)

Komunikasi

1. Penggunaan SMS

2. Keterbukaan

3. Pengambilan Keputusan

4. Konflik

5. SMS dalam menyelesaikan konflik

– Alasan penggunaan

– Jenis SMS yang dikirimkan

– Peningkatan keterbukaan dengan SMS

– Melalui SMS atau tidak

– Penyelesaian konflik

– Alat komunikasi yang digunakan

– Frekuensi dan Alasan digunakan

– Efektivitas

8. Teknik Analisis Data

Menurut Moleong, analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.[8]

Berdasarkan kutipan tersebut, maka langkah-langkah analisis data dalam penelitian kualitatif adalah: Pertama mengorganisasikan seluruh data yang terkumpul, kedua pengelolaan data, ketiga verifikasi dan penafsiran data, keempat mengambil kesimpulan.

a. Mengorganisasikan Data

Data primer yang terkumpul dari hasil wawancara dengan bantuan rekaman di tulis kembali (ditranskripsikan) apa adanya dari komentar responden ke dalam lembar hasil wawancara.

b. Pengelolaan Data

Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengelolaan yaitu memformulasikan kategori, yaitu menggolongkan hasil wawancara kepada kategori-kategori yang telah ditetapkan sebagai bahan analisis.

c. Verifikasi dan Penafsiran Data

Teknik ini merupakan satu upaya untuk mencari suatu hubungan, persamaan atau kesimpulan yang muncul seiring dengan semakin banyaknya dukungan data yang diperoleh. Langkah ini merupakan kelanjutan dari pengelolaan data berupa penjelasan yang rinci berdasarkan teori yang diperoleh dari berbagai literatur dengan data yang diperoleh pada obyek penelitian.

d. Pengambilan Kesimpulan

Setelah melalui tahap verifikasi dan penafsiran data, maka langkah akhir adalah melakukan generalisasi sebagai dasar untuk pengambilan kesimpulan.


[1] Ibid., h.10.

[2] Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (Bandung: Rosdakarya, 2002), h.268.

[3] Dale G. Leathers, www.ut.ac.id

[4] Sugiyono, Metodologi Penelitian Bisnis (Bandug: Alfabeta, 2001), hal. 10-11.

[5] Jalaluddin Rakhmat, Metodologi Penelitian Komunikasi (Bandung: Rosdakarya, 2002), hal.68.

[6] Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln, “Introduction: Entering the Field of Qualitative Research”’, dalam Norman K. Denzin and Yvonna S. Lincoln (eds), Handbook of Qualitative Research (Sage Publications, London, 1994), hlm. 6.

[7] W. Lawrence Neuman, Social Research Method, (New York: Allyn and Bacon, 2000), hal. 38.

[8] Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Rosdakarya, 2002), hal. 103.

Categories: Riset
  1. ama
    March 17, 2008 at 9:37 am

    aku tertarik dengan penelitian tentang komunikasi interpersonal karna sekarang aku lagi cari judul nich untuk skripsi,kira2 permasalahan dan judul apa ya yang bagus, mengenai kom in juga,,,,,please bls ke emailku ya

  2. mula
    August 2, 2008 at 12:58 pm

    mencintai bukan hanya memberi, tapi mengerti. konflik dalam hubungan percintaan sering diakibatkan oleh ketidakpercayaan satu sama lain sehinga sulit mengerti kondisi pasangan, kekurangan dan kelebihan. faktor kedua biasanya diakibatkan oleh miscommunication. saat ini memang, komunikasi menduduki faktor yang penting dalam menjaga hubungan, tanpa adanya komunikasi yang baik, pasangan anda akan sulit mengerti kondisi yang anda hadapi. namun konflik tdk selamanya buruk. konflik merupakan media pembelajaran menuju kedewasaan, sejauh mana anda mampu menghadapi konflik sec cerdas.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: