Home > Riset > Irak Pasca Perang [1]

Irak Pasca Perang [1]

by: harja saputra (2002)

Irak kini telah porak-poranda sesudah Amerika Serikat untuk kedua kalinya dalam sejarah dunia menggempur negeri tersebut habis-habisan. Invasi Amerika berlangsung lebih lama dari yang direncanakan oleh Amerika yang berjanji akan menaklukkan dan menangkap Saddam Husein dalam 5 hari. Lebih dari 20 hari Amerika Serikat mengerahkan tentaranya dengan dibantu oleh tentara Inggris dan Australia membumihanguskan negeri Irak. Dimulai pada tanggal 19 Maret sampai 15 April 2003 sejarah dunia mencatat berlangsungnya Invasi Amerika. Amerika akhirnya dapat menaklukkan Baghdad dan Tikrit (sebagai kota asal Saddam Husein yang mayoritas penduduknya pro-Saddam) dan membombardir seluruh bunker-bunker yang diduga merupakan kediaman Saddam Husein.[1]

Sejarah mengenai Invasi Amerika ini telah didokumentasikan oleh pihak pemerintahan Swiss sejak berlangsungnya perang tersebut. Dalam dokumentasi tersebut, menurut Menteri Luar Negeri Swiss, Micheline Calmy Rey, akan dikumpulkan berbagai informasi mengenai kejahatan Invasi tentara sekutu pada rakyat Irak. Data-data yang telah diperoleh, menurut beliau, banyak memaparkan perihal tindakan-tindakan ‘kotor’ tentara sekutu selama Invasi berlangsung. Dalam dokumentasi tersebut juga berusaha dihimpun nama-nama penduduk sipil yang menjadi korban sekutu, termasuk anak-anak balita, perempuan, dan hak-hak warga sipil serta penindasan pers.[2]

Nasib negara Irak pasca-Invasi Amerika masih belum jelas, bahkan untuk beberapa hari terjadi kehampaan hukum dan nilai-nilai moral dengan maraknya penjarahan yang dilakukan oleh warga sipil yang anti-Saddam. Mereka menjarah segala harta peninggalan Saddam. Hukum tidak berlaku untuk beberapa hari dan tentara Amerika seperti sengaja membiarkan fenomena tersebut. Ketidakpastian kondisi politik, ekonomi, dan kehidupan sosial warga Irak merupakan dampak tersendiri setelah berlangsungnya Invasi.

Dari segi kehidupan keagamaan, Irak yang mayoritas penduduknya sebanyak 60% adalah kelompok Muslim Syi’ah dan sisanya kelompok Muslim Sunni, komunis, dan kelompok keagamaan lain menjadi tema sentral tersendiri dalam kajian kondisi sosial warga Irak.[3] Dengan adanya kelompok Syi’ah yang umumnya kontra terhadap Saddam dan kelompok Sunni yang umumnya pro terhadap Saddam akan menjadi satu bibit pemicu kekacauan pasca tergulingnya Saddam. Hal itu terlihat jelas dari tragedi terbunuhnya salah satu Ulama Syi’ah terkemuka, Sayyid Madjid Al-Khui, yang diduga dibunuh oleh para pengikut Saddam pada pertemuan di Mesjid Imam Ali di Najaf pada tanggal 12 April 2003. Hal itu menyulut konflik horisontal yang masih belum dapat diselesaikan sampai saat ini antara para kelompok Syi’ah dengan kelompok Sunni.[4]

Dari segi perseturuan antar suku di Irak, hal itu juga akan menjadi salah satu penyulut yang akan mewarnai wajah perpolitikan dan kehidupan sosial warga Irak pasca Invasi. Suku-suku di Irak, masing-masing memiliki sifat nasionalisme tersendiri yang terkesan menonjolkan sikap eksklusivisme di antara masing-masing suku. Suku Kurdi, misalnya, yang pada pemerintahan Saddam merupakan suku yang mengambil posisi sebagai oposisi terhadap pemerintahan Saddam, saat ini tengah berusaha untuk tampil ke dunia perpolitikan dengan akan mengambil alih roda pemerintahan Irak di tangan mereka. Apalagi suku Kurdi pada saat perang antara Amerika dan Irak berlangsung menjadi pendukung dan ikut membantu Amerika untuk melawan Saddam Husein.

Dari pihak sekutu sendiri, setelah Invasi berakhir timbul keinginan untuk menguasai Irak secara sepenuhnya, terutama sumber daya alam (khususnya kilang-kilang minyak Irak yang merupakan pemasok minyak terbesar kedua setelah Arab Saudi).[5] Selain sumber daya alam, ada skenario lain dari Amerika, yang menurut para pengamat politik, menjadi agenda penting Amerika pasca Invasi. Agenda-agenda politik tersebut terkait dengan banyak pihak, sebut saja misalnya Israel. Israel dan Amerika, seperti dikemukakan oleh Surya Kusuma (salah satu peneliti pada Indonesian Institute of Peace and Justice), memiliki satu deal politik yang menjadi salah satu motif Amerika menggempur Irak. Deal politik antara Amerika dan Israel tersebut, seperti dikatakan oleh Smith Alhadar (Wakil Ketua The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES)) , berkaitan erat dengan misi Israel untuk mengalahkan musuh utamanya, yaitu para pejuang Palestina yang selalu merongrong pemerintahan Israel. Para pejuang Palestina, yang dikenal dengan nama Hizbullah, banyak mendapat bantuan personil dari negara Irak, Iran dan Suriah. Dengan telah ditaklukkannya Irak, maka yang mendukung para pejuang Hizbullah akan melemah. Adanya deal politik antara Israel-Amerika semakin terlihat jelas dari rencana Amerika untuk mengadakan invasi ke Suriah akhir-akhir ini. Hal itu dilontarkan oleh Menteri Pertahanan Amerika, Donald Rumsfeld, bahwa misi Washington untuk membasmi para teroris di dunia tidak berhenti di Irak, tetapi juga akan diarahkan ke Suriah, Iran, dan Korea Utara, yang disebut oleh beliau sebagai “negara iblis”.[6]

Asumsi-asumsi mengenai wajah politik Irak pasca Invasi Amerika di atas merupakan hasil analisa dari para pengamat dan ahli politik. Kemungkinan benar dan salahnya adalah fifty-fifty, karena masih berupa asumsi-asumsi yang dihasilkan dari pengumpulan data-data dan realita yang ada yang tampak di permukaan. Tetapi, tidak ada yang tahu secara pasti wajah politik di Irak pasca Invasi Amerika yang sesungguhnya.

Berbagai asumsi-asumsi di atas jelas harus dikaji lebih lanjut dengan adanya upaya komparasi dari berbagai sumber-sumber yang dapat dipercaya. Untuk itu, dalam riset ini penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian lebih lanjut yang akan mengkaji lebih dalam mengenai asumsi-asumsi di atas, dengan mengambil tema pembahasan “Perubahan Sosial dan Politik di Irak Pasca Invasi Amerika”.


[1] Republika, 5 Maret – 15 April 2003.

[2] Republika, 15 April 2003 yang dikutip dari surat kabar Jerman, Frankfurter Allgemeine, Senin 31 Maret 2002.

[3] Encyclopedia Britannica 2002, dalam entry “Iraq”.

[4] Dikutip dari berita yang dilansir oleh situs www.irna.com.

[5] Smith Alhadar, “Skenario Amerika Serikat Pasca-Saddam, yang dimuat Harian Umum Republika, 15 April 2003.

[6] Pernyataan Menteri Perthanan di atas disadur dari berita CNN, tanggal 16 Maret 2003.

Categories: Riset
  1. isna
    November 3, 2008 at 8:00 am

    tahukah anda apa planing amerika selajutnya terhadap dunia??yaitu ingin menghancurkan muslim indonesia dg isu DEMOKRASI,GLOBALISASI, dan HAM, Amerika ingin menghancurkan muslim indonesia dg hedonisme,pluralisme yang ada di indonesia,dan masuk dalam institusi pemerintahan untuk kemudian mengatur berbagai kebijakan2 baru yang akan dikeluarkan pemerintah indonesia.kita lihat saja apakah pemerintah indonesia menyadari dan menantisipasi hal ini ataw tidak???

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: