Home > Dakwah, Riset > Konsep Dakwah Muthahhari [1]

Konsep Dakwah Muthahhari [1]

by: harja saputra (2003)

A. Latar Belakang

Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang mulia. Ia mempunyai fitrah yang suci, dengan disain kejiwaan yang sempurna, memiliki rasa keadilan, dan memiliki rasa keagamaan yang hanîf.[1] Pada diri manusia terkumpul potensi-potensi, baik yang positif maupun yang negatif.[2] Ia memiliki akal dan hati nurani, tetapi ia juga memiliki syahwat dan hawa nafsu.[3] Tuhan menyediakan untuk manusia dua jalan, yaitu jalan keimanan dan jalan kekufuran, seperti ditegaskan dalam al-Qur’an Surat al-Balad [90]:10:

وهديناه النجدين (البلد: 10)

Artinya: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”.

Manusia juga diberi kebebasan untuk memilih salah satu di antara dua jalan tersebut.

وقل الحق من ربكم فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر إنا أعتدنا للظالمين نارا أحاط بهم سرادقها وإن يستغيثوا يغاثوا بماء كالمهل يشوي الوجوه بئس الشراب وساءت مرتفقا (الكهف: 29)

Artinya: “Dan katakanlah: Kebenaran (al-Haqq) adalah yang datang dari Tuhanmu, barangsiapa yang mau beriman maka berimanlah dan barangsiapa yang mau ingkar (kufur) maka biarlah dia mengingkarinya. Karena Kami telah menyediakan bagi orang-orang yang berlaku zhalim itu api neraka. Dan jika mereka meminta pertolongan karena dahaga, mereka akan diberi pertolongan dengan air yang berupa tembaga cair yang membakar muka, amatlah buruk minuman itu dan amat buruk neraka sebagai tempat bersenang-senang”.

Secara psikologis manusia adalah makhluk yang berpikir dan merasa. Jika manusia menggunakan cara berpikir dan merasa yang benar, maka ia dapat menggapai tujuan secara aman dan memuaskan. Akan tetapi jika manusia menggunakan cara berpikir dan cara merasa yang salah, maka ia tidak bisa harmoni dengan orang lain dan bahkan tidak juga dengan diri sendiri, dan ketika itulah manusia mulai berjarak dengan fitrahnya. Ketika itu pikiran tak berfungsi, perasaan dan nuraninya mati, manusia gagal menjadi manusia, seperti yang diisyaratkan oleh al-Qur’an:

ولقد ذرأنا لجهنم كثيرا من الجن والإنس لهم قلوب لا يفقهون بها ولهم أعين لا يبصرون بها ولهم آذان لا يسمعون بها أولئك كالأنعام بل هم أضل أولئك هم الغافلون (الأعراف: 179)

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi”.

Dari berbagai potensi yang dimiliki manusia tersebut, secara fitri manusia membutuhkan dakwah, untuk meluruskan perilaku manusia yang bengkok, mengoreksi yang salah, mengingatkan yang lupa dan memperingatkan yang nekat.

Seperti diungkapkan oleh Alawiyyah (2001), dakwah bukan hanya kebutuhan manusia secara individual tetapi juga kebutuhan manusia secara universal, bukan hanya kebutuhan negeri-negeri Islam tetapi juga dunia secara keseluruhan. Kebutuhan manusia terhadap dakwah berhubungan dengan kehidupan sekarang yang semakin penuh dengan pilihan-pilihan (sebagai akibat dari gelombang demokratisasi), dan meningkatnya kecendrungan permisif dan hedonisme (sebagai akibat dari interdependesi pasar dan materialisme global) serta semakin banyaknya paradoks kehidupan dan sulitnya memegang monopoli kebenaran (sebagai akibat dari revolusi ilmu pengetahuan).[4]

Pentingnya dakwah dalam kehidupan manusia mengisyaratkan pentingnya berbagai kajian dan pengayaan literatur yang terkait dengan disiplin ilmu dakwah. Ilmu dakwah harus berkembang sesuai dengan tuntutan zaman yang berlaku di setiap zaman yang tentunya berbeda dari setiap waktu dan tempat. Sudah waktunya umat Islam untuk lebih terbuka dalam mengkaji secara komprehensif literatur-literatur ilmu dakwah maupun ilmu-ilmu keislaman lainnya tanpa didasari adanya fanatisme madzhab, golongan, aliran pemikiran, ras maupun bangsa. Karena dakwah menyangkut kemaslahatan manusia secara universal, maka dasar pemikirannya harus juga bersifat universal. Ia tidak memandang sekat-sekat golongan maupun bangsa. Dakwah harus dapat menembus semua itu. Oleh karena itu, semangat untuk menggali pemikiran-pemikiran dan metode-metode baru untuk kegiatan dakwah harus pula dilandasi dengan semangat “menjaga yang lama yang masih relevan dan mengambil yang baru yang lebih baik“.[5]

Lebih jauh, kita mengenal sosok Muthahhari sebagai seorang tokoh intellektual Muslim asal Iran yang terkenal sangat produktif dalam menelurkan pemikiran-pemikiran baru mengenai ajaran Islam lewat karya-karyanya. Bisa dikatakan, bahwa beliau adalah kampiun bagi kebangkitan tradisi intellektual dan rasional di dunia Muslim. Namun, di sisi lain, kita belum mendapatkan sebuah karya khusus dari beliau mengenai dakwah.

Pemikiran-pemikiran Muthahhari mengenai dakwah belum dikodifikasi dalam satu kitab khusus. Ia masih tersebar secara terpisah-pisah dalam karya-karya beliau yang sangat banyak, sehingga untuk mengetahui konsep dakwah menurut Murtadha Muthahhari dirasakan cukup sulit. Bukan saja tidak ada kitab atau buku spesifik yang menguraikan tentang masalah tersebut, tetapi bahkan memang buah pemikirannya yang sangat brilian dan sangat luas ilmunya menyulitkan untuk disentuh secara menyeluruh. Tetapi melalui beberapa karyanya—seperti akan tampak pada pembahasan selanjutnya—dapat dipahami bahwa sesungguhnya Muthahhari adalah seorang ‘alim sekaligus seorang da’i yang memiliki konsep dakwah yang khas.

 


[1] Lihat QS. al-Infithâr [82]:5-7 dan ar-Rûm [30]:30.

[2] Yakni diilhami pengetahuan tentang nilai ketakwaan dan kejahatan, lihat QS. Asy-Syams [91]:8.

[3] Tentang anatomi kejiwaan menurut al-Qur’an, lihat Achmad Mubarok, Jiwa dalam al-Qur’an: Solusi Krisis Kerohanian Manusia Modern, Jakarta: Paramadina, 2000.

[4] Tutty Alawiyyah AS, Paradigma Baru Dakwah Islam, Dokumen Pidato penganugerahan Doctor Honoris Causa Bidang Dakwah, IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 17 Februari 2001.

[5] Fazlur Rahman, Metode dan Alternatif Neo-Modernisme Islam, (Bandung: Mizan, 1998), h. 66 .

Categories: Dakwah, Riset
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: