Home > Dakwah, Riset > Konsep Dakwah Muthahhari [2]

Konsep Dakwah Muthahhari [2]

by: harja saputra (2003)

A. Biografi Murtadha Muthahhari

Asy-Syahîd Ayatullâh Murtadha Muthahharî adalah putera dari ‘Allamah al-Hujjah almarhum Syaikh Muhammad Husain al-Muthahharî. Beliau dilahirkan pada tahun 1338 H/1919 M di negeri Firman di dekat kota suci Masyhad, Khurasan, Iran, tempat dimakamkannya Imam Ridha. Di kota ini juga ayahnya mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan antara tahun 1352 hingga 1354 Hijriyah.

Pada bulan Ramadhan 1356 H beliau hijrah ke kota Qum dan menggeluti ilmu-ilmu keagamaan di universitas yang ada di kota itu, khususnya ilmu fiqh, ushul fiqh, filsafat, dan mantiq (logika) dengan bimbingan dari dua ayatullah terkemuka: Boroujerdi dan Khomeini. Gurunya yang terkemuka dalam bidang filsafat adalah ‘Allamah Thabâthabaî. Sambil belajar, beliau juga mengajarkan ilmu-ilmu tersebut. Sesudah berakhirnya masa belajar, maka pada bulan Syawal 1371 H, beliau hijrah ke Teheran dan bermukim di sana untuk mengajarkan ilmunya kepada masyarakat.[1]

Sebelum beliau syahid, di kota Teheran itulah Muthahhari mulai mengajarkan mantiq, filsafat, dan fiqh pada Fakultas Teologi Universitas Teheran. Selama mengajar itu, beliau dua kali menjabat sebagai ketua pada Jurusan Filsafat di fakultas tersebut. Antara tahun 1374-1388 Hijriyah beliau juga sibuk mengajarkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan filsafat—kadang-kadang dengan fiqh—di madrasah Merv.

Beliau memiliki keistimewaan, beliau menguasai pendapat-pendapat yang khas dan original dalam berbagai cabang ilmu teoritis Islam, dan selama hampir sepuluh tahun melakukan penelitian dalam ilmu tafsir sistematis. Keluasan ilmunya ditunjukkan oleh kenyataan bahwa Universitas Teheran telah memperbanyak dan menyebarluaskan kuliah-kuliah yang diberikannya di situ dengan judul Kuliah-kuliah Ilmu Fiqh, Kuliah-kuliah Ilmu Ushul, Kuliah-kuliah Ilmu Kalam, dan Kuliah-kuliah Ilmu Tashawuf (‘Irfan).

Kontribusi Muthahhari bagi kemajuan umat Islam, baik terhadap pemikiran maupun gerakan-gerakan sosial kemanusiaan, jelas tidak diragukan lagi. Bahkan, bisa dikatakan, kalaulah tidak ada Muthahhari yang banyak menulis buku-buku bernuansa filosofis, teologis, sosial, dan bahkan yurisprudensi, maka di kalangan Madzhab Syî’ah Itsna ‘Asyariah khususnya dan bagi umat Islam pada umumnya, ibaratnya akan kehilangan satu “investor” penting sebagai penanam modal bagi khazanah intelektualitas dan aksi umat Islam dalam mengembangkan keIslamannya. Ia menduduki posisi—meminjam istilahnya S.H. Nasr & Ahmad Dabashi—yang signifikan sebagai pemikir Islam dalam mencetuskan ide-ide brillian dalam masalah sosial dan keilmuan Islam.[2]

Bagi masyarakat Iran sendiri, keberadaan Muthahhari mendapat tempat penting sebagai tokoh yang, selain banyak memberikan sumbangan pemikirannya yang bukan saja dapat membendung arus westernisasi, tetapi juga memunculkan kembali khazanah pemikiran Islam yang khas dan tak terbantahkan. Dalam banyak buku Muthahhari, ia kerap mengkritik tajam pemikiran-pemikiran para filosof maupun pemikir Barat, dan setelahnya, ia biasanya menampilkan ide-ide barunya yang reasonable secara sistematis dan “spektakuler”.[3]

Selain itu, Muthahhari juga dipandang sebagai figur aktivis yang banyak menyuarakan anti penindasan dan kolonialisme serta sangat pro terhadap gerakan-gerakan kemanusiaan. Mengenai gerakan-gerakan kemanusiaan dan anti penindasannya, Mutahhari dikenal sebagai—meminjam istilah Jalaluddin Rakhmat—“arsitek” revolusi Iran. Ia bahkan telah biasa keluar-masuk penjara di masa rezim Syah, dikarenakan sering melakukan kegiatan politik yang sangat anti penindasan. Pada tahun 1963, misalnya, ia ditahan bersama Ayatullah Khomeini. Dan, ketika Imam Khomeini dibuang ke Turki, Muthahhari mengambil alih kepemimpinan dan menggerakkan para ulama mujahidin. Bersama ulama lainnya, beliau mendirikan Husainiya-yi Irsyad, sebagai markas kebangkitan intellektual Islam, tempat Ali Syari’ati menyampaikan kuliah-kuliahnya secara terbuka. Kemudian pada tahun 1972 M, Muthahhari kembali dipenjara oleh rezim Syah Pahlevi karena dianggap sebagai “propagandis” yang menentang kekuasaan Syah saat itu.

Sebagai ulama, ia pun menjadi imam Mesjid al-Jawad dan mengubah masjid itu menjadi pusat gerakan politik Islam. Pada tahun 1978, Syah melarang semua kuliah dan khutbahnya, ketika Muthahhari mengecam pembuangan Ayatullah Muntazeri. Aktivitas gerakan sosial Muthahhari lainnya adalah ketika revolusi meletus, beliau mengepalai kelompok ulama Mujahidin dan menjadi anggota Dewan Revolusi.[4]

Akhirnya, pada suatu malam, ketika Kuthahhari pulang dari pertemuan Dewan Revolusi, beberapa orang pemuda dari kelompok Hizbe Furqan menghujaninya dengan peluru sampai beliau tergeletak dan tercabik-cabik. Ia syahid pada tanggal 3 Mei 1979. Hari kesyahidannya itu, oleh Ayatullah Khomeini dinyatakan sebagai hari berkabung nasional untuk menghormati pribadi yang siap mengorbankan dirinya untuk agama dan bangsa. Dengan kesyahidannya, sejarah hidup Muthahhari dapat disingkatkan dengan tiga kalimat saja: Ia lahir, ia berjihad, ia syahid.[5]

B. Karya-karya Murtadha Muthahhari

Muthahhari adalah seorang ulama Muslim dari Mazhab Syi’ah Itsna ‘Asyariyah yang sangat berperan dalam pembentukan intellektual masyarakat Iran dan Muslim dunia pada zamannya. Hal itu dapat dibuktikan dengan sumbangsih beliau terhadap khazanah keilmuan Islam dengan banyaknya karya-karya beliau, baik yang sudah diterbitkan maupun yang belum. Di antara karya-karya beliau yang telah diterbitkan adalah sebagai berikut:

1. Ta’liqât ‘ala Ushûl al-Falsafah wa al-Madzhab al-Waqî’iy

2. Qishâsh al-Mukhlisîn (diterjemahkan dari kitab berbahasa Farsi Dastan Rastan, sebanyak 2 jilid).

3. Al-Insân wa al-Mashir (diterjemahkan dari kitab berbahasa Farsi Insan va Syarnusyt).

4. Mas’alat al-Hijâb (diterjemahkan dari kitab berbahasa Farsi Mas’alah Hijab)

5. Al-‘Adl al-Ilâhi (diterjemahkan dari kitab berbahasa Farsi ‘Adl Ilahi).

6. Ad-Dawâfi’ Nahw al-Mâdiyah (diterjemahkan dari kitab berbahasa Farsi ‘Ilal Karaisy bih Madikari).

7. Al-Jadzb wa al-Daf’ fî Syakhsiyyat al-Imâm ‘Alî

8. Al-Adamât al-Mutaqâbilat bayn al-Islâm wa Iran

9. Nizhâm Huqûq al-Mar’at fî al-Islâm

10. Fî Rihâb Nahj al-Balaghah (diterjemahkan dari kitab berbahasa Farsi Siri dar Nahjul Balaghah).

11. Al-Imdâdat al-Ghaibiyyah fî Hayât al-Insân (

12. ‘Isyrûn Hadits (diterjemahkan dari kitab berbahasa Farsi Bist Hadits).

13. Nahdhat al-Imâm al-Mahdi (diterjemahkan dari kitab berbahasa Farsi Qiyam wa ‘ngilab Mahdi as)

14. Khatm al-Nubuwwah (diterjemahkan dari kitab berbahasa Farsi Khatm Nubuwwah).

15. Al-Nabîy al-Ummiy (diterjemahkan dari kitab berbahasa Farsi Payambar Ummy).

16. Anmath al-Walâ’ wa Anwâ’ al-Wilâyat

17. Al-Akhlâq al-Jinsiyyat min Wijhah al-Nazhar al-Islâm

18. Tashhîh wa Kitâbah Hawasy Kitâb al-Tashil li Bahmatiyar bin Marzaban

19. Kulliyât al-‘Ulûm al-Islamiyah.[6]



[1] Biografi ini ditulis untuk cetakan pertama kitab ‘Ilal Karaisy bih Madikari, telah diterbitkan dalam bahasa Arab dengan judul Ad-Dawâfi’ Nahw al-Mâdiyah dan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Kritik Islam terhadap Faham Materialisme”, (Jakarta: Risalah Masa, 1992).

[2] Sayyed Hosein Nasr & Hamid Dabashi (ed.), Expectation of The Millenium: Shi’ism in History, (New York: State University New York Press, 1994), h.410.

[3] Periksa berbagai pendapat Muthahhari tentang konsep Etika dalam buku Falsafah Akhlak, (Bandung: Mizan, 1994), tentang konsep Humanisme dalam Manusia dan Agama, (Bandung: Mizan, 1995), dan pada hampir semua bukunya yang selalu bernada seperti itu.

[4] Lebih lanjut lihat pengantar Jalaluddin Rakhmat untuk buku Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama (Bandung: Mizan, 1995), h.7-10.

[5] Ibid., h.36.

[6] Murtadha Muthahhari, Kritik Islam terhadap Faham Materialisme. Terjemahan Ad-Dawâfi’ Nahw al-Mâdiyah oleh A.M. Muzakki. (Jakarta: Risalah Masa, 1992), h.14—15.

Categories: Dakwah, Riset
  1. Sulistyo
    November 4, 2008 at 3:27 am

    Tulisan yang cerdas dan berbobot.
    Jika melihat kondisi sekarang yang dekat pemilu akan lebih fresh jika ditampilkan tulisan Syahid Muthahhari tentang pandangannya terhadap politik.

  2. Agus hasmi
    March 17, 2009 at 4:57 pm

    Salam, ana mohon izin antum untuk copy paste buat dikirim kegroup di facebook alquran library

  1. March 25, 2009 at 10:21 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: