aku menulis maka aku ada…

Life is short, writing is eternal…

Tabu dalam bahasa Sunda [1]

by: harja saputra (2002)

Penelitian tentang tabu bahasa (word tabooed) dalam kebudayaan masyarakat Sunda—khususnya yang beragama Islam (Muslim)—ini sesungguhnya berada di bawah payung ilmu linguistik antropologi.[1] Artinya, kajian pada tabu bahasa dilakukan dalam konteks sosial budaya yang lebih luas, yaitu fungsinya dalam menopang praktik kebudayaan. Jadi, bidang interdisipliner tersebut mengkaji bahasa lewat kaca mata antropologi. Dengan cara itu, para ahli linguistik antropologi umumnya bekerja untuk menemukan makna di balik penggunaan bahasa, salah penggunaan atau bukan penggunaan bahasa, perbedaan bentuk, laras, dan gaya bahasa.[2]

Melalui studi hubungan antara bahasa dan kebudayaan, dapat dilihat kedekatan hubungan antara bahasa dan kebudayaan itu. Sebagai implikasinya, keduanya saling membutuhkan.[3] Dalam kaitannya dengan penelitian bahasa, terutama bahasa-bahasa lokal yang tersebar di berbagai tempat di muka bumi ini yang terkumpul bersama-sama dengan unsur kebudayaan suatu suku bangsa, seorang peneliti memerlukan pengetahuan kebudayaan agar ia dapat memahami bahasa secara baik.

Sebagai sebuah kajian yang melibatkan kebudayaan, penelitian tabu bahasa dalam kebudayaan masyarakat Muslim Sunda ini tentu menarik karena beberapa alasan.

Pertama, mengingat penelitian tentang tabu bahasa dalam masyarakat Muslim, khususnya di suku Sunda, sejauh ini masih belum ada para sarjana baik dalam maupun luar negeri yang mengeksplorasinya. Meskipun pernah ada yang meneliti mengenai tabu dalam kebudayaan Muslim oleh William Robertson Smith, yang tertuang dalam karyanya Kinship and Marriage in Early Arabia (1885), dan ‘The Religion of the Semites‘ (1889), tetapi hanya terbatas pada tabu perbuatan (act tabooed) dan bukan pada masyarakat Muslim Sunda secara khusus. Pada karya utama Geertz pun, yaitu The Religion of Java (1960) yang mengeksplorasi budaya dan keberagamaan masyarakat jawa, nyaris tidak ditemukan pembahasan khusus mengenai tabu bahasa dalam masyarakat Muslim Jawa. Dengan demikian, pembahasan mengenai tabu bahasa dalam masyarakat Muslim Sunda ini dirasakan menarik dan perlu untuk dikaji mengingat alasan tersebut.

Kedua, pembahasan mengenai tabu bahasa dalam masyarakat Muslim Sunda ini umumnya bertujuan untuk membuktikan bagaimana keterkaitan antara agama dan kebudayaan bahkan terhadap bahasa yang digunakan oleh suatu masyarakat dalam suasana pertuturan sehari-hari. Kenyataan menunjukkan, seperti akan jelas tampak pada pembahasan selanjutnya, bahwa kebudayaan masyarakat Muslim Sunda khususnya dalam penggunaan bahasa yang digunakan terdapat perbedaan yang unik dibandingkan dengan masyarakat Muslim di negara lain. Hal ini tentunya akan memperkuat asumsi di atas, yaitu keterkaitan antara agama, kebudayaan, dan bahasa. Sebagai contoh, dalam kebudayaan masyarakat Muslim Sunda terdapat tabu jika tidak mengatakan sebutan Pak Haji kepada orang yang telah menunaikan ibadah haji. Hal semacam itu bisa disebut sebagai “tabu bahasa”, karena jika dilanggar maka akan menimbulkan bahaya atau kecemaran yang disebut dengan pamali.

Hakikat tabu bahasa ialah “larangan” menggunakan kata atau ungkapan tertentu karena dianggap dapat membahayakan atau mencemarkan nama baik seseorang. Untuk mengatasi kekhawatiran akan timbulnya bahaya atau kecemaran, penutur dapat melakukan beberapa tindakan sebagai berikut. Pertama, penutur dapat mengelakannya dengan cara “diam”. Kedua, penutur dapat mengelakannya dengan cara “berbisik”.[1] Ketiga, penutur dapat mengelakkannya dengan cara menggantikan/menyulih kata atau ungkapan tabu dengan kata atau ungkapan lain yang dilazimkan dalam masyarakat yang bersangkutan.[2]

Cara yang pertama, tidak dikaji dalam penelitian ini karena ia tidak dalam wujud bahasa. Demikian juga halnya dengan cara yang kedua, tidak menjadi perhatian penelitian ini meskipun sesungguhnya ia dilakukan dengan menggunakan kata-kata atau ungkapan yang dilarang namun dalam wujud bisikan. Cara tersebut tidak menampakkan diri melalui medium ujaran yang sahih secara linguistik sehingga ia dapat diibaratkan gesture (tindakan berbisik itu disertai dengan gerak-gerik muka dan anggota tubuh). Dengan kata lain, ia menggunakan medium fisik bukan medium ujaran.[3]

Dengan demikian, di antara ketiga cara di atas, yang menjadi masalah dalam penelitian ini ialah cara yang ketiga, yang selanjutnya akan disebut “tabu bahasa”, atau yang oleh Frazer disebut dengan “tabu nama” (names tabooed), yaitu larangan untuk menyebut nama yang akan mendatangkan bahaya atau juga kecemaran nama baik.[4]

Berdasarkan uraian di atas, sekarang dapat dikemukakan masalah utama penelitian ini yaitu: “Bagaimana tabu bahasa dalam kebudayaan masyarakat Muslim Sunda diwujudkan dalam tingkah laku verbal”. Masalah utama tersebut dapat dijabarkan menjadi beberapa submasalah sebagai berikut:

  1. Apa saja wujud tabu bahasa dalam kebudayaan masyarakat Muslim Sunda?
  2. Apa landasan dari tabu bahasa yang ada, terutama jika dikaitkan dengan doktrin agama?
  3. Bagaimana cara masyarakat Muslim Sunda menghindar dari tabu bahasa dalam perilaku sosialnya?


[1] Sir James George Frazer. The Golden Bough: A Study in Magic and Religion. Bagian kedua: “Taboo and the Perils of the Soul” dan bagian keduapulun dua: “Tabooed Word” (London: Macmillan, 1955), hlm.410.

[2] Salzmann, Language, Culture, and Society: An Introduction to Linguistic Anthropology. Edisi Kedua. Westview Press, 1998, hlm.193.

[3] Lihat D’Andrade, R.G.W. “Memory and The Assessment of Behaviour” Dalam Ronald W. Casson (ed.). Language, Culture and Cognition. (London: Macmillan, 1981), hlm.456.

[4] Sir James George Frazer. The Golden Bough: A Study in Magic and Religion. Bagian Keduapulun Dua: “Tabooed Word” (London: Macmillan, 1955), hlm.415.


[1] Ilmu linguistik antropologi sendiri memiliki arti dan cakupan sebagai berikut. Yaitu ilmu yang mempelajari keterkaitan antara bahasa dan kebudayaan, pokok bahasan dari ilmu ini biasanya adalah bahasa-bahasa yang terdapat dalam sebuah kebudayaan masyarakat yang belum terrekam atau tertulis secara resmi (“Anthropological linguiustics is a study of the relationship between language and culture; it usually refers to work on languages that have no written records“). Sebagaimana yang telah dikembangkan di negara Amerika Serikat, sebuah riset telah membuktikan bahwa salah satu hubungan erat antara ilmu antropologi dan linguistik dapat dilihat dari kebudayaan dan bahasa Indian. Bahkan para sarjana mutakhir meyakini bahwa terdapat hubungan yang erat antara bahasa, pemikiran, dan kebudayaan yang berlaku di masyarakat Indian Amerika (Lebih lanjut lihat Encyclopedia of Britannica 2002 pada term “Anthropological Linguistics”).

[2] William A. Foley, Anthropological Linguistics: An Introduction. (Oxford: Blackwell Publishers, 1997), hlm.3.

[3] Periksa Ronald W. Casson, (ed.). Language, Culture and Cognition. (London: Macmillan, 1981), hlm.4.

2 Tanggapan »

  zuraini bte seruji wrote @

terima kasih kerana melalui tulisan anda dapat membantu saya dalam menyiapkan kertas kerja walaupun saya memilih tajuk bahasa tabu dalam masyarakat melayu sarawak.

  Zuraini Bte Seruji wrote @

Sekali lagi terima kasih tak terhingga kerana dapat saya merujuk tulisan tuan untuk menghasilkan kajian Ph.D saya secara lebih meluas


Komentar Anda

HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>